Senin, 22 Juni 2009

"Ketika Masjid Menjadi Tempat Ibadah Semata"

Masjid adalah sentra peribadatan umat Islam. Kata masjid diambil dari bahasa Arab, sajada, artinya sujud; dan dari kata yang sama muncul kata "masjid" sebagai bentuk isim makan, yang berarti "tempat bersujud". Sejaran panjang rumah ibadah ini seiring dengan perjalanan sejarah umat Islam.
Di masa-masa awal perjalanan sejarahnya, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai wadah perkumpulan masyarakat untuk aktivitas sosial, politik, budaya, bahkan perekonomian. Fungsi-fungsi di luar fungsi tempat ritual ini menjadikan eksistensi masjid berotasi secara sentripetal dan sentrifugal untuk melakukan transformasi sosial-politik. Dalam konteks ini, tidak heran ketika rumah Rasulullah pun berdampingan dengan masjid. Fungsi-fungsi profetik ini sangat kuat memainkan peran dalam kancah pembangunan peradaban umat Islam, seperti membangun nilai-nilai kemanusiaan (insaniyyat), keadilan ('adl), persamaan hak (musawah) dan lain sebagainya.
Fungsi dan peran profetik masjid saat ini secara perlahan dan pasti mulai memudar ketika hampir sebagian masyarakat memiliki cara pandang yang berbeda terhadap masjid itu sendiri. sistem nilai, budaya dan gaya hidup pragmatisme telah memasuki masuk ke semua sendi-sendi kehidupan masyarakat, tanpa terkecuali agama. Asumsi masjid sebagai gedung an sich tanpa disadari telah membangun kesadaran umat Islam, minus dimensi profetik-spiritual. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, aktivitas sosial, perekonomian, dan politik yang syarat dengan budaya "pungli", sogok-menyogok, dan perilaku lainnya yang dilarang agama justru dilakukan di serambi masjid. .......

0 komentar:

Posting Komentar