Jelang Pilpres dan Wapres RI 2009, konstelasi politik dan para elit mulai meramaikan pertarungan "Siapa" (who) dan "dengan Siapa" (whom) pasangan yang maju ke kursi kepresidenan periode 2009-2014. Konstelasi kian memanas ketika perolehan suara masing-masing parpol menunjukan hasil yang sudah banyak diprediksi sejak awal oleh kalangan pengamat. Sebagai imbasnya, calon pemenang pun sudah dapat diprediksikan untuk pilpres nanti.
Prediksi ini pun sejalan dengan kecenderungan umum sebagian masyarakat Indonesia yang mulai jenuh, bahkan "apatis" terhadap segala perhelatan politik di negeri ini. Maraknya pertarungan politik pasca era otonomi daerah yang melahirkan sistem pemilihan terbuka di tingkat pemilihan kepala daerah namun kurang memberikan pendidikan politik pada masyarakat, menjadi indikator utama bahwa pertarungan politik hanya sebatas sebagai pertarungan mencari kekuasaan semata di tingkat elit politik; masyarakat hanyalah obyek penderita yang dijadikan korban para elit.
Dalam konteks ini, tidak mengejutkan jika tidak ada perubahan sikap, perilaku dan iklim yang dibangun akan melahirkan sikap yang mengarah pada "de-demokrasi". Ibarat sebuah dagangan, jika dibiarkan demokrasi tidak akan laku sebagai sebuah dagangan nilai-nilai ketatanegaraan. makasih
Istri & anak
sedang mejeng
My son
lagi minum apa bang
Anak ane
Lagi Berduaan
About Me
- Dede Iswadi
- Alumni MAKY Darussalam Ciamis Tahun 1995. S1 Tafsir Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. S2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Blog Archive
Minggu, 10 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar